Pengenalan Delay Tolerant Network
Halo kawan....sudah lama rasanya saya tidak lagi mengisi blog ini. Pada kesempatan kali ini saya akan mencoba mengenalkan pada kawan-kawan semua mengenai internet yang ber-delay.....ok cek it dot.
Pendahuluan
Saat ini komunikasi internet menjadi
kebutuhan yang sangat penting bagi suatu organisasi, baik korporasi,
institusi pemerintahan, sekolah, perguruan tinggi, dan dalam kehidupan
sehari-hari. Kemunculan komunikasi internet berdampak pada pola ataupun
kebiasaan masyarakat dalam pencarian informasi, yang semula dilakukan
dengan literatur cetak berubah pada literatur digital yang dapat diakses
dengan lebih mudah dan cepat.
Disisi lain, Kondisi geografis di
permukaan bumi yang unik dan beragam seperti daratan tinggi ,dataran
rendah, pegunungan dan pantai menyebabkan masalah Digital Divide, dimana masih banyak kawasan belum terjangkau oleh penyelenggara Internet, Internet Service Provider
(ISP). Selain itu, biaya instalasi dan biaya berlangganan layanan
internet masih menjadi kendala dalam membangun infrastruktur internet di
suatu area pedesaan. Bahkan Menteri Komunikasi dan Informasi Indonesia
memberikan data statistik bahwa pada bulan Juni 2009, 31 ribu desa di
Indonesia masih belum terjangkau Internet, selain itu masih banyak
sekali blank spot (area-area yang tidak terjangkau Internet) meskipun desanya sudah terjangkau Internet.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut,
dikembangkan-lah sebuah protokol komunikasi yang tidak bergantung oleh
delay waktu yang disebut protokol Delay Tolerant Network (DTN).
Protokol inilah yang cocok untuk komunikasi di sebuah negara dengan
kondisi geografis yang sulit di jangkau oleh internet dengan protocol
TCP/IP.
Konsep DTN pertama kali diperkenalkan oleh Kevin Fall dalam makalah ilmiahnya yang berjudul “A Delay-Tolerant Network Architecture for Challenged Internets” [1].
Dalam makalah tersebut, Kevin menyatakan bahwa DTN merupakan arsitektur
yang cocok pada jaringan yang “menantang” (challenged). Maksud dari
“menantang” disini adalah jaringan yang penuh dengan masalah, seperti
delay yang lama, koneksi yang sering terputus dan tingkat error yang
tinggi. Contoh jaringan yang menantang antara lain:
- Jaringan dengan media penghantar gelombang radio (RF). Contohnya adalah jaringan komputer yang menggunakan Handy Talkie (HT) sebagai sinyal penghantar. Media ini pernah dikembangkan oleh Affan Basalamah (ITB) yang memanfaatkan jaringan radio amatir untuk akses Internet. Sinyal RF memiliki jangkauan lebih jauh tetapi juga memiliki tingkat error akibat noise yang cukup tinggi.
- Jaringan luar angkasa (Interplanetary Network), konsep jaringan yang memungkinkan akses Internet di luar angkasa.
- Military AdHoc Network. Pasukan militer seringkali ditempatkan di daerah-daerah terpencil yang tidak berpenghuni dan tidak ada koneksi memadai. Misalkan di perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini, atau di pulau-pulau terluar Indonesia. Konsep DTN dapat digunakan untuk membangun jaringan komputer dalam keadaan seperti ini.
- Jaringan Sensor/Aktuator, contohnya pada penerapan Wireless Sensor Network (WSN).
Pengertian Delay Tolerant Network
Delay Tolerant Network, artinya jaringan
(komputer) yang toleran atau tidak mempermasalahkan delay (waktu tunda).
Pada jaringan dengan DTN, meskipun delay dalam jaringan cukup tinggi,
jaringan DTN tetap dapat bekerja.
TCP/IP sebagai protokol yang paling
banyak digunakan dalam dunia jaringan komputer, tidak akan dapat bekerja
apabila terjadi delay yang cukup lama dalam jaringan. Supaya protokol
TCP/IP dapat bekerja, mengirimkan paket dari satu node ke node yang
lain, maka syarat-syarat yang harus dipenuhi jaringan adalah sebagai
berikut:
- Ada koneksi end-to-end antara pengirim dan tujuan yang kontinyu dan bidirectional
- Short round trips, artinya waktu yang diperlukan untuk mengirim paket dari pengirim ke tujuan yang tidak terlalu lama. Ordenya mili second (ms).
- Low Error Rates, tingkat kesalahan pengiriman yang kecil.
Pada Internet misalnya, ketiga syarat di
atas harus terpenuhi. Misalkan kita ingin mengirim data ke server
Facebook di Amerika, maka harus ada koneksi end-to-end yang selalu
tersedia (tidak boleh putus) antara komputer kita dengan server facebook
di Amerika. Tentu saja koneksi end-to-end ini biasanya melewati
beberapa router hingga sampai ke tujuan. Kalau koneksi kita putus di
suatu tempat, misalnya router di Jepang mati karena terkena badai, maka
koneksi Internet akan putus. Walaupun biasanya sistem akan mencarikan
rute lain dalam rangka menuju ke Amerika (lewat Eropa misalnya), tetapi
seandainya semua rute gagal, maka koneksi Internet akan putus. Semua
paket yang sudah terkirim, tetapi belum sampai tujuan akan dibuang atau
di “drop”.
Apabila jaringan putus, tetapi pengirim
masih terus-menerus mengirim paket (misalnya pada koneksi UDP), maka
paket-paket tersebut juga akan dibuang. Selanjutnya, ketika koneksi
sudah kembali normal, proses pengiriman paket harus dimulai dari awal.
Ilustrasi proses pengiriman data pada TCP/IP saat terjadi gangguan pada
salah satu node ini ditunjukkan dalam Gambar 1.
(Pengertian pengiriman data harus dimulai
dari awal disini adalah di tingkatan paket per paket, bukan file. Pada
pengiriman data, file akan dipecah menjadi paket-paket data. Pada
tingkat file, sudah ada aplikasi semacam Internet Download Manager (IDM)
yang memungkinkan apabila koneksi terputus kita tidak mendownload file
mulai dari awal)
Gambar 1. Paket data yang langsung di drop saat koneksi dengan node berikutnya terputus. [4]
Dalam jaringan TCP/IP, waktu yang
diperlukan dalam proses pengiriman data juga tidak boleh terlalu lama
(short round trips). Apabila proses pengiriman data terlalu lama akibat
beberapa hal, misalnya karena salah satu router sedang lemot, maka paket
data akan didrop. Pada program ping misalnya, apabila proses pengiriman
data terlalu lama, maka program akan menampilkan balasan “request timed
out” (RTO) yang artinya setelah selang waktu tertentu setelah paket
dikirim, tidak ada balasan dari tujuan (perintah ping mengirim paket ke
sebuah node, dan node tersebut mengirimkan balasan).
DTN memperbaiki kemampuan jaringan untuk
contoh kasus seperti contoh di atas. Contohnya, apabila suatu saat salah
satu node yang menjadi router bermasalah, maka jaringan dengan DTN
tetap dapat bekerja. Data akan ditahan di node (router) terakhir yang
berfungsi. Selanjutnya paket data tersebut akan diteruskan ke node
berikutnya apabila node berikutnya telah berfungsi normal. Pada
komunikasi dengan delay yang besar, seperti pada komunikasi data dengan
gelombang radio, jaringan dengan DTN juga masih tetap dapat bekerja.
Cara Kerja DTN
DTN bekerja dengan menggunakan Metode Store and Forward. Metode Store
and Forward berarti sebuah paket data saat melewati node-node perantara
(ex. router) akan disimpan terlebih dahulu sebelum diteruskan. Hal ini
untuk mengantisipasi seandainya node berikutnya tidak dapat dijangkau
(mati) atau ada kendala yang lain. Ilustrasi konsep Store and Forward
ditunjukkan dalam Gambar 2.
Gambar 2. Metode Store and Forward. [3]
Dalam Gambar 3, menunjukkan proses pengiriman data dari Node A dengan
tujuan akhir Node D. Saat melewati Node B dan Node C sebagai perantara,
data disimpan terlebih dahulu sebelum dikirimkan apabila koneksi dengan
Node berikutnya telah siap. Metode Store and Forward berbeda dengan
proses pengiriman data pada TCP/IP. Pada TCP/IP, router hanya menerima
data dan langsung memforward. Akibatnya, jika koneksi putus di suatu
tempat, data yang sedang dalam proses pengiriman tersebut akan hilang.
Metode Store and Forward memiliki konsekuensi yaitu setiap node harus
memiliki media penyimpanan (storage). Storage digunakan untuk menyimpan
data apabila koneksi dengan node berikutnya belum tersedia. Oleh karena
itu, router yang hanya terdiri atas router board seperti yang biasa
dipakai dalam jaringan TCP/IP tidak dapat digunakan dalam jaringan DTN.
Router pada jaringan DTN harus memiliki media penyimpan, contohnya pada
router yang berupa PC.
Dalam DTN, proses Store and Forward dilakukan pada sebuah layer
tambahan yang disebut Bundle layer, dan data yang tersimpan sementara
disebut dengan bundle. Bundle layer adalah sebuah layer tambahan untuk
memodifikasi paket data dengan fasilitas-fasilitas yang disediakan DTN.
Bundle layer terletak langsung di bawah layer aplikasi. Dalam bundle
layer, data dari layer aplikasi akan dipecah-pecah menjadi bundle.
Bundle inilah yang akan dikirim ke transport layer untuk diproses lebih
lanjut. Letak bundle layer ditunjukkan dalam Gambar 4.
Gambar 3. Letak Bundle Layer [3]
Gambar 3 menunjukkan penerapan DTN pada jaringan. Perlu diketahui
bahwa DTN tidak hanya beroperasi di jaringan TCP/IP. Protokol-protokol
pada layer di bawah bundle layer bisa protokol apa saja, tergantung
kondisi jaringan. Oleh karena itu, salah satu fungsi DTN adalah dapat
menjadi perantara jaringan yang berbeda protokol. Misalnya menjadi
perantara antara jaringan yang menggunakan TCP/IP dengan jaringan yang
menggunakan Protokol Token Ring.
Referensi
[1] obrillian.wordpress.org
[2] Fall, Kevin, “A Delay Tolerant Network Architecture for
Challenged Internets”, SIGCOMM ’03, New York, NY, USA: ACM 2003, p.
27-34. Available at http://doi.acm.org/10.1145/863955.863960
[3] Warthman, Forest, Mar 2003, Delay-Tolerant Networks (DTNs): A Tutorial v1.1, diunduh dari http://www.dtnrg.org/docs/tutorials/warthman-1.1.pdf, waktu akses 17 Januari 2010, 17:00
[4] Automation BioServe, CNET – Interplanetary Networking, video tutorial, diunduh dari http://www.youtube.com/watch?v=psaztuwcWgg


Comments
Post a Comment